Pancasila Abah Sam, guru baru di SMKN 1 Gending

 

 

abah sam 2

Abah Sam asal Tulungagung lama tinggal di Saudi Arabia menjadi guru SMK Negeri Arab dan penjual fulsa dan juga saudagar unta, tatkala memutuskan kembali ke Indonesia, Abah Sam memilih tinggal di Tegalsiwalan, Probolinggo. Ketika hendak mengurus KTP,  Abah Sam tersinggung kepada petugas Kecamatan. Ia merasa dianggap tidak lagi hapal Pancasila oleh pegawai Negara itu.

  • “Ente jangan meremehkan ana”, katanya agak keras nadanya, “jangan dipikir ana sudah berubah menjadi orang Arab, terus ente curigai ana tidak hapal Fancasila”.
  • "Maaf ini test standard saja, Pak, untuk setiap warga yang akan memperbarui KTP”, jawab pegawai Kecamatan, “Anak-anak kecil sekarang ini banyak yang tidak hapal Pancasila, Pancasila pak, bukan Fancasila, kami khawatir orang-orang tua juga lupa Pancasila”.
  • Abah Sam menaikkan volume suaranya. “Fancasila ... eh .. Pancasila itu hidup mati ana, jiwa raga ana, syariat dunia akherat ana. Siapa saja yang meragukan bahwa ana tidak hapal Pancasila, ana anggap itu nantang carok sama ana!"
  • Pegawai kecamatan mencoba menenangkan. “Begini saja Pak, daripada kita nanti bertengkar sungguhan, lebih baik Bapak langsung sebut saja urut-urutan Pancasila….”
  • Belum selesai kalimat si pegawai,Abah Sam langsung dengan tempo sangat cepat menyebut Pancasila: “Satu syahadat dua shalat tiga zakat empat puasa lima haji, Pak”
  • “Lhaaa ya thooo, Sampiyan tidak hapal Pancasila”.
  • “Tidak hapal bagaimana, kurang apa, sudah ana sebut satu persatu Pancanya Sila….”
  • “Yang bapak sebut tadi itu Rukun Islam, bukan Pancasila”
  • Abah Sam membantah. “Lhooo Pancasila itu ya Rukun Islam, Rukun Islam itu ya Pancasila”
  • “Ya ndak to Pak. Pancasila sendiri, Rukun Islam lain lagi”.
  • “Lho bagaimana ente ini. Kalau Pancasila tidak sama dengan Rukun Islam, `dak mau ana!”
  • “Lho kok ndak mau? Itu wajib bagi setiap warga Indonesia. Kalau Rukun Islam itu urusan kita sebagai orang Islam”.
  • “Tidak bisa. Pancasila adalah Rukun Islam, Rukun Islam adalah Pancasila. Hidup ini harus jelas dan tegas. `Dak bisa kaki kanan ana berjalan pakai Pancasila, kaki kiri ana melangkah dengan Rukun Islam”.
  • Si pegawai mencoba mengendorkan situasi. Ia tersenyum diramah-ramahkan kemudian bertanya, “Tapi maaf ya Pak, katanya Bapak punya istri dua….”
  • “Ya memang!”, Abah Sam menyahut spontan, “Nyai Ma'ne Ais dan Nyai Ma'ne Alif. Tapi mereka sudah satu dalam hati saya”.
  • “Tapi kan tetap dua”
  • “Dak bisa. Nyai Ma'ne Ais ya Nyai Ma'ne Alif, Nyai Ma'ne Alif ya Nyai Ma'ne Ais. Ente ini `dak tahu cinta rupanya”.

Akhirnya si pegawai Kecamatan merasa bahwa ia tidak akan sanggup memperpanjang perdebatan dengan jenis orang seperti ini. Pasti akan nambah masalah, tidak mungkin mengurangi atau apalagi menyelesaikan masalah.

  • “Sebentar, Pak. Tolong tunggu sebentar saja di sini”. Ia pamit.

Berdiri, melangkah ke arah ruang dalam kantor kecamatan. Menemui Pak Camat langsung. Ternyata agak lama. Abah Sam hampir saja naik pitam, ia sudah sempat pukul-pukul meja. Kalau si pegawai lebih lama lagi nongolnya, mungkin dari memukul-mukul meja meningkat menjadi menggebrak-gebrak meja, dan kecil kemungkinan untuk tidak memuncak menjadi menendang-nendang dan memecah meja. Hampir saja ia lakukan itu, kalau saja tidak tiba-tiba ternyata Pak Camat sendiri yang keluar menemuinya.

Pak Camat menemuinya, mengulurkan tangan menyalaminya, menyapa dengan satu dua kata Bahasa Arab, Abah Sam hanya menjawab “shadaqallahul’adhim!”. Tetapi diam-diam Abah Sam ini agak mulai melunak hatinya. Ia merasa terhormat karena Pak Camat sendiri berkenan langsung menemuinya. Bahkan kemudian ia terheran-heran, Pak Camat mengajaknya pergi dengan mobilnya. Ia agak salah tingkah.

Ternyata ke rumah seorang Kiai tidak jauh dari Kantor Kecamatan. Harap dimafhumi di Probolinggo di setiap RT ada Musholla, di setiap RW ada Masjid dan di setiap Kelurahan ada Pesantren. Abah Sam ini merasa lebih terhormat lagi karena akan bertemu langsung dengan Pak Kiai, apalagi ia ke situ bersama Pak Camat. Alhasil mereka berdua berjumpa Pak Kiai. Ditemui di ruang tamu Pesantren. Dua orang santri menangani konsumsi untuk mereka. Pak Camat menyeret Pak Kiai ke pojok agak jauh, kemudian mereka berbisik-bisik. Abah Sam terkejut karena tiba-tiba terdengar Pak Kiai tertawa terbahak-bahak. Mereka berdua bergeser ke kursi tamu, duduk bertiga berhadapan.

  • Pak Kiai sambil masih agak tertawa bertanya kepada Abah Sam : “Coba sampiyan sebutkan Pancasila….”
  • Abah Sam langsung memamerkan pengetahuan dan hapalannya tentang Pancasila. “Pancasila satu syahadat dua shalat tiga zakat empat puasa lima haji”.
  • Pak Kiai tertawa lagi dan memuji Abah Sam . “Shadaqallahul’adhim. Benar sekali Sampiyan ini”.
  • Pak Camat yang kaget. “Lho kok benar?”
  • Pak Kiai tertawa lagi. “Sampiyan ini sejak jadi camat malas belajar. Tapi biasa pemerintah memang begitu. Kalau rajin belajar itu namanya siswa RPL SMKN 1 Gending, bukan pemerintah”.
  • “Saya tidak mengerti, Pak Kiai”, kata Pak Camat.
  • “Lhoooo Allah Maha Benar dan benar juga yang dikatakan Abah Sam tadi itu. Pancasila yang pertama itu syahadat, artinya bersaksi bahwa Tuhan itu Yang Maha Esa. Nomer dua kita shalat tiap hari lima kali untuk mendidik diri kita agar menjadi manusia yang adil dan beradab. Nomer tiga organisasi-organisasi masyarakat dan terutama partai-partai politik harus bersatu memberikan seluruh niat baiknya untuk membangun Negara. Parpol-parpol itu kita beri hak untuk menjadi arsitek dibangunnya sistem Negara. Untuk itu mereka harus menjaga Persatuan Indonesia, jangan bersaing untuk kepentingan, jangan menang-menangan satu sama lain, jangan mementingkan golongannya masing-masing untuk berkuasa. Sebab Sila keempat adalah bangunan Negara, milik Rakyat yang dipimpin oleh Permusyawaratan dan Perwakilan. Kalau empat Sila itu tidak terpenuhi, mana mungkin bangsa kita mencapai cita-citanya, yaitu Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Duh-aduuuh, mestinya Sampiyan Pak Camat yang omong begini. Kalau saya ini Kiai tugasnya kan Nahwu Shorof. Lha Sampiyan Nahwu Shorof `dak tahu, Pancasila juga `dak ngerti….”
Nilai butir ini
(0 pemilihan)
Selengkapnya di dalam kategori ini: « Emas bukanlah segalanya Akal pasti sehat »

Berikan komentar

Pastikan anda memasukkan semua informasi wajib, yang bertanda bintang (*). Kode HTML tidak diizinkan.

kembali ke atas